Kamis, 20 Mei 2010

Tugas SIP

DEFINISI SISTEM INFORMASI


Sesungguhnya yang dimaksud dengan sistem informasi tidak harus melibatkan komputer. Sistem informasi yang menggunakan komputer biasa disebut sistem informasi berbasis komputer ( Computer-Based Information Systems atau CBIS ).

Dalam prakteknya, istilah sistem informasi lebih sering dipakai tanpa embel-embel berbasis komputer walaupun dalam kenyataannya komputer merupakan bagian yang penting. Sistem Informassi (SI) atau Information System (IS) yang menunjukan sistem dapat menghasilkan informasi yang berguna.

  • Alter (1992)
  • Bodnar dan Hopwood (1993)
  • Gelinas, Oram, dan Wiggins (1990)
  • Tuban, McLean, dan Wetherbe (1999)
  • Wilkinson
  • http://myblooger.blog.dada.net/post/661314/Definisi-Sistem-Informasi

    Kumpulan elemen-elemen yang saling berinteraksi untuk mencapai tujuan tertentu
    Elemen Sistem :
    1. input
    2. proses
    3. output

    Karakteristik Sistem :
    a. memiliki komponen
    b. memiliki batasan
    c. memiliki lingkungan
    d. memiliki interface
    e. memiliki input
    f. memiliki output
    g. memiliki pengolah
    h. memiliki sasaran atau tujuan

    Data vs Informasi
    terdiri dari fakta-fakta dan angka-angka yang secara relatif tidak berarti bagi pemakai
    Informasi
    - data yang sudah diproses
    - data yang sudah memiliki fakta
    - data yang ditempatkan pada suatu konteks

    Karakteristik informasi yang baik : relevan, tepat waktu, akurat, mengurangi ketidakpastian, mengandung elemen yang baru
    Sistem Informasi
    sistem terbuka yang menghasilkan informasi dengan menggunakan siklus : input, proses dan output

    Fungsi sistem informasi :
    membantu individu/kelompok melaksanakan aktifitas


    Sumber : bima.staff.gunadarma.ac.id



    Jumat, 16 April 2010

    gangguan belajar pada anak

    Gangguan Belajar
    DEFINISI

    Gangguan belajar meliputi kemampuan untuk memperoleh, menyimpan, atau menggunakan keahlian khusus atau informasi secara luas, dihasilkan dari kekurangan perhatian, ingatan, atau pertimbangan dan mempengaruhi performa akademi.

    Gangguan belajar sangat berbeda dari keterlambatan mental dan terjadi dengan normal atau bahkan fungsi intelektual tinggi. Gangguan belajar hanya mempengaruhi fungsi tertentu, sedangkan pada anak dengan keterlambatan mental, kesulitan mempengaruhi fungsi kognitif secara luas. Terdapat tiga jenis gangguan belajar : gangguan membaca, gangguan menuliskan ekspresi, dan gangguan matematik. Dengan demikian, seorang anak dengan gangguan belajar bisa mengalami kesulitan memahami dan mempelajari matematika yang signifikan, tetapi tidak memiliki kesulitan untuk membaca, menulis, dan melakukan dengan baik pada subjek yang lain. Diseleksia adalah gangguan belajar yang paling dikenal. Gangguan belajar tidak termasuk masalah belajar yang disebabkan terutama masalah penglihatan, pendengaran, koordinasi, atau gangguan emosional.

    PENYEBAB

    Meskipun penyebab gangguan belajar tidak sepenuhnya dimengerti. Mereka termasuk kelainan pada proses dasar yang berhubungan dalam memahami atau menggunakan ucapan atau penulisan bahasa atau numerik dan pertimbangan ruang.

    Diperkirakan 3 sampai 15% anak bersekolah di Amerika Serikat memerlukan pelayanan pendidikan khusus untuk menggantikan gangguan belajar. Anak laki-laki dengan gangguan belajar bisa melebihi anak gadis lima banding satu, meskipun anak perempuan seringkali tidak dikenali atau terdiagnosa mengalami gangguan belajar.

    Kebanyakan anak dengan masalah tingkah laku tampak kurang baik di sekolah dan diperiksa dengan psikologis pendidikan untuk gangguan belajar. Meskipun begitu, beberapa anak dengan jenis gangguan belajar tertentu menyembunyikan gangguan mereka dengan baik, menghindari diagnosa, dan oleh karena itu pengobatan, perlu waktu yang lama.

    GEJALA

    Anak kecil kemungkinan lambat untuk mempelajari nama-nama warna atau huruf, untuk menyebutkan kata-kata untuk objek yang dikenal, untuk menghitung, dan untuk kemajuan pada awal keahlian belajar lain. Belajar untuk membaca dan menulis kemungkinan tertunda. Gejala-gejala lain dapat berupa perhatian dengan jangka waktu yang pendek dan kemampuan yang kacau, berhenti bicara, dan ingatan dengan jangka waktu yang pendek. Anak tersebut bisa mengalami kesulitan dengan aktifitas yang membutuhkan koordinasi motor yang baik, seperti mencetak dan mengkopi.

    Anak dengan gangguan belajar bisa mengalami kesulitan komunikasi. Beberapa anak mulanya menjadi frustasi dan kemudian mengalami masalah tingkah laku, seperti menjadi mudah kacau, hiperaktif, menarik diri, malu, atau agresif.

    DIAGNOSA

    Anak yang tidak membaca atau belajar pada tingkatan yang diharapkan untuk kemampuan verbal atau kecerdasan harus dievaluasi. Pemeriksaan pendengaran dan penglihatan harus dijalankan, karena masalah pikiran sehat ini bisa juga berhubungan dengan keahlian membaca dan menulis.

    Dokter meneliti anak tersebut untuk berbagai gangguan fisik. Anak tersebut melakukan rangkaian tes kecerdasan, baik verbal maupun non verbal, dan tes akademik pada membaca, menulis, dan keahlian aritmatik.

    PENGOBATAN

    Pengobatan yang paling berguna untuk gangguan belajar adalah pendidikan yang secara hati-hati disesuaikan dengan individu anak. Cara seperti membatasi makanan aditif, menggunakan vitamin dalam jumlah besar, dan menganalisa sistem anak untuk trace mineral seringkali dicoba tetapi tidak terbukti. Tidak ada obat-obatan yang cukup efektif pada pencapaian akademis, intelegensi, dan kemampuan pembelajaran umum. Karena beberapa anak dengan gangguan belajar juga mengalami ADHD, obat-obatan tertentu, seperti methylphenidate, bisa meningkatkan perhatian dan konsentrasi, meningkatkan kemampuan anak untuk belajar.

    http://medicastore.com/penyakit/3187/Gangguan__Belajar.html

    gangguan belajar pada anak

    Gangguan Belajar
    DEFINISI

    Gangguan belajar meliputi kemampuan untuk memperoleh, menyimpan, atau menggunakan keahlian khusus atau informasi secara luas, dihasilkan dari kekurangan perhatian, ingatan, atau pertimbangan dan mempengaruhi performa akademi.

    Gangguan belajar sangat berbeda dari keterlambatan mental dan terjadi dengan normal atau bahkan fungsi intelektual tinggi. Gangguan belajar hanya mempengaruhi fungsi tertentu, sedangkan pada anak dengan keterlambatan mental, kesulitan mempengaruhi fungsi kognitif secara luas. Terdapat tiga jenis gangguan belajar : gangguan membaca, gangguan menuliskan ekspresi, dan gangguan matematik. Dengan demikian, seorang anak dengan gangguan belajar bisa mengalami kesulitan memahami dan mempelajari matematika yang signifikan, tetapi tidak memiliki kesulitan untuk membaca, menulis, dan melakukan dengan baik pada subjek yang lain. Diseleksia adalah gangguan belajar yang paling dikenal. Gangguan belajar tidak termasuk masalah belajar yang disebabkan terutama masalah penglihatan, pendengaran, koordinasi, atau gangguan emosional.

    PENYEBAB

    Meskipun penyebab gangguan belajar tidak sepenuhnya dimengerti. Mereka termasuk kelainan pada proses dasar yang berhubungan dalam memahami atau menggunakan ucapan atau penulisan bahasa atau numerik dan pertimbangan ruang.

    Diperkirakan 3 sampai 15% anak bersekolah di Amerika Serikat memerlukan pelayanan pendidikan khusus untuk menggantikan gangguan belajar. Anak laki-laki dengan gangguan belajar bisa melebihi anak gadis lima banding satu, meskipun anak perempuan seringkali tidak dikenali atau terdiagnosa mengalami gangguan belajar.

    Kebanyakan anak dengan masalah tingkah laku tampak kurang baik di sekolah dan diperiksa dengan psikologis pendidikan untuk gangguan belajar. Meskipun begitu, beberapa anak dengan jenis gangguan belajar tertentu menyembunyikan gangguan mereka dengan baik, menghindari diagnosa, dan oleh karena itu pengobatan, perlu waktu yang lama.

    GEJALA

    Anak kecil kemungkinan lambat untuk mempelajari nama-nama warna atau huruf, untuk menyebutkan kata-kata untuk objek yang dikenal, untuk menghitung, dan untuk kemajuan pada awal keahlian belajar lain. Belajar untuk membaca dan menulis kemungkinan tertunda. Gejala-gejala lain dapat berupa perhatian dengan jangka waktu yang pendek dan kemampuan yang kacau, berhenti bicara, dan ingatan dengan jangka waktu yang pendek. Anak tersebut bisa mengalami kesulitan dengan aktifitas yang membutuhkan koordinasi motor yang baik, seperti mencetak dan mengkopi.

    Anak dengan gangguan belajar bisa mengalami kesulitan komunikasi. Beberapa anak mulanya menjadi frustasi dan kemudian mengalami masalah tingkah laku, seperti menjadi mudah kacau, hiperaktif, menarik diri, malu, atau agresif.

    DIAGNOSA

    Anak yang tidak membaca atau belajar pada tingkatan yang diharapkan untuk kemampuan verbal atau kecerdasan harus dievaluasi. Pemeriksaan pendengaran dan penglihatan harus dijalankan, karena masalah pikiran sehat ini bisa juga berhubungan dengan keahlian membaca dan menulis.

    Dokter meneliti anak tersebut untuk berbagai gangguan fisik. Anak tersebut melakukan rangkaian tes kecerdasan, baik verbal maupun non verbal, dan tes akademik pada membaca, menulis, dan keahlian aritmatik.

    PENGOBATAN

    Pengobatan yang paling berguna untuk gangguan belajar adalah pendidikan yang secara hati-hati disesuaikan dengan individu anak. Cara seperti membatasi makanan aditif, menggunakan vitamin dalam jumlah besar, dan menganalisa sistem anak untuk trace mineral seringkali dicoba tetapi tidak terbukti. Tidak ada obat-obatan yang cukup efektif pada pencapaian akademis, intelegensi, dan kemampuan pembelajaran umum. Karena beberapa anak dengan gangguan belajar juga mengalami ADHD, obat-obatan tertentu, seperti methylphenidate, bisa meningkatkan perhatian dan konsentrasi, meningkatkan kemampuan anak untuk belajar.

    http://medicastore.com/penyakit/3187/Gangguan__Belajar.html

    disgrafia

    Disgrafia, Lebih Banyak Terjadi pada Anak Laki-Laki
    BERITA - gaya-hidup.infogue.com - GANGGUAN baca-tulis atau yang juga dikenal dengan disgrafia mencakup masalah menulis, mengeja dan menyusun kerangka berpikir saat pelajaran mengarang. Hal ini terjadi manakala keterampilan menulis anak jauh di bawah standar umur dan skor IQ-nya.

    Sebuah penelitian di Amerika melaporkan, kasus kesulitan belajar yang terkait ketidakmampuan menulis (disgrafia) lebih banyak ditemui pada anak laki-laki. Berkebalikan dengan kesulitan membaca seperti disleksia yang telah banyak diteliti, penelitian tentang kesulitan menulis masih sangat minim, sehingga angka kasusnya juga tidak jelas.

    Pada penelitian terbaru yang melibatkan lebih dari 5700 anak, diketahui bahwa sekitar 7-15 persen dari jumlah tersebut mengalami gangguan baca-tulis semasa duduk di bangku sekolah. Persentase ini bervariasi, tergantung kriteria yang dipakai untuk mendiagnosis masalah ini.

    Anak laki-laki kecenderungannya 2-3 kali lebih berisiko terdiagnosis ketidakmampuan membaca dibanding anak wanita, apa pun jenis kriteria diagnosis yang dipakai.

    Demikian dituliskan Dr Slavica K Katusic dan koleganya dari Mayo Clinic di Rochester, Minnesota, Amerika, pada laporan yang dimuat dalam jurnal Pediatrics. Hasilnya mengindikasikan bahwa kasus gangguan menulis sama lazimnya dengan kesulitan membaca.

    Jika umumnya anak-anak dengan gangguan menulis juga mengalami kesulitan membaca, maka sekitar seperempatnya hanya mengalami gangguan menulis.

    "Fakta bahwa kasus pada anak pria lebih sering terkena berdasarkan penelitian yang lampau dikarenakan anak wanita secara umum tampil lebih baik dalam tulisan tangan dan ekspresi tertulis," ujar Katusic.

    Penelitian lanjutan diperlukan untuk menggali lebih jauh perbedaan kasus terkait gender tersebut, termasuk kemungkinan pengaruh genetik dan lingkungan.
    http://gaya-hidup.infogue.com/disgrafia_lebih_banyak_terjadi_pada_anak_laki_laki

    kesulitan belajar berbicara

    Mengapa Anak Mengalami Kesulitan Belajar Bicara

    Dalam periode 24 tahun (Tahun 1971 sampai dengan 1995) Dr. James MacDonnald bekerja di Ohio State University, mendalami masalah Keterlambatan Bicara pada Anak. Sebagai seorang ahli Patologi Bahasa dan Wicara, ia melatih para terapis wicara dan orangtua untuk menjadi ‘rekan’ bicara dari anak-anak. Intinya, ia ingin mengajarkan orang dewasa untuk tidak mendominasi pembicaraan dan menjadikan anak sebagai ‘obyek’ dalam suatu pembicaraan. Sejak pensiun di tahun 1995, Jim mendedikasikan waktu dan tenaganya untuk memimpin “Communicating Partners Center”. Ia telah membuat banyak tulisan mengenai Keterlambatan Bicara, sekaligus juga membuka forum diskusi “Communicating” di internet.

    Di bawah ini adalah salah satu tulisannya yang merupakan analisa / hasil penelitian atas ribuan anak yang mengalami keterlambatan dalam perkembangan verbal /bicara-nya. Yang penting untuk diingat dalam membaca tulisan-tulisan Jim adalah bahwa komunikasi berarti kemampuan bicara DAN mendengar yang berlangsung DUA ARAH.

    Mengapa Anak Mengalami Kesulitan dalam Belajar Berbicara

    Ini hanyalah sedikit dari sekian banyak masalah yang kami temui:

    Keterbatasan Dalam Pendengaran

    Seringkali ditemui kondisi medis sementara maupun kerusakan permanen dalam pendengaran anak

    Perkembangan Otot Yang Lambat

    Beberapa anak mengalami kesulitan melakukan gerakan mulut/rahang cepat untuk mengkombinasikan dan mengkoordinasikan apa yang ingin mereka katakan dengan suara & bahasa yang harus mulut mereka hasilkan

    Kelambanan Dalam Mengerti Bahasa Orang Dewasa

    Tidak mudah bagi anak untuk memproses panjang (dan cepat)-nya informasi yang di-’ekspos’ oleh orang dewasa melalui bahasa ‘rumit’ yang mereka pakai

    Sedikitnya Latihan Dalam Berinteraksi Dengan Orang Lain

    Anak kurang mendapat kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain guna melatih kemampuan komunikasi mereka

    Peran yang Terlalu Pasif dalam Kehidupan Sosial

    Kebanyakan anak lebih sering ditempatkan dalam posisi “menerima” dan tidak “memberi” dalam hubungannya dengan orang lain.Hal ini mengakibatkan tidak terbiasanya mereka berpartisipasi secara aktif; hal yang dibutuhkan dalam perkembangan bicara mereka

    Cara Komunikasi “Kuno” Sudah Terlalu Nyaman Dipakai

    Beberapa anak, khususnya dalam hubungan di dalam keluarganya, terbiasa dengan nyaman berkomunikasi menggunakan gerakan,bahasa tubuh maupun bunyi-bunyian saja. Hal ini boleh jadi merupakan cara komunikasi yang efektif di dalam rumah, namun tidak dalam lingkup masyaarakat, di mana anak butuh menggunakan bahasa secara verbal sampai ke tingkat kata-kata yang rumit

    Orang Dewasa Tidak Menganggap Anak Mampu

    Banyak orang dewasa tidak melibatkan anak dalam berkomunikasi, karena memiliki pemikiran bahwa anak tersebut belum mampu berpartisipasi aktif ataupun mengerti pembicaraan yang berlangsung.

    Orang Dewasa Bicara Atas Nama Mereka

    Seringkali orang dewasa bicara atas nama anak, sehingga mereka kelihatan tidak berbicara

    Tidak Cukup Waktu Untuk Berbicara

    Sering terjadi bahwa dalam suatu proses komunikasi, orang dewasa tidak menunggu cukup lama guna memberi kesempatan pada anak untuk merespon. Kebanyakan anak bersikap pasif dalam berkomunikasi, sepertinya mereka mengerti bahwa mereka tidak akan diberi kesempatan untuk bicara.

    Terlalu Banyak Rangsangan

    Sekalipun untuk niat dan tujuan yang baik, seringkali anak di’jejali’ dengan terlalu banyak bahasa, sehingga mereka kewalahan. Rasanya seperti anak yang sedang belajar menangkap bola, lalu dilempari beberapa bola sekaligus.

    Terlalu Banyak Bahasa “Sekolah”; Kurang Bahasa Yang “Komunikatif”

    Kebanyakan anak pada awal usianya diajarkan bahasa yang mencakup ‘warna’, ‘angka’, yang sebetulnya tidak terlalu bermanfaat dalam komunikasi sehari-hari. Anak membutuhkan rangsangan bahasa yang sifatnya praktis; mencakup kosa kata yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, karena mereka akan melatih kemampuan berbahasanya melalui kehidupan sehari-hari.

    Terlalu Banyak Bahasa “Pertujukan”; Kurang “Obrolan” Sosial

    Kebanyakan anak menggunakan bahasa untuk menunjukkan kemampuannya meniru sesuatu kepada orang dewasa; apakah itu sajak pendek, syair lagu, mengulang cerita yang didongengkan kepada mereka, dll. Hanya sedikit yang mendapatkan kesempatan untuk ‘ngobrol’ dan bertanya jawab secara santai, sehingga terbangun hubungan ‘pertemanan’ dengan orang yang berkomunikasi dengan mereka.

    Terlalu Banyak Bermain Sendirian

    Tentunya anak belajar banyak melalui permainannya dengan boneka, robot atau mainan lainnya. Namun untuk melatih kemampuan nya berkomunikasi, ia akan membutuhkan juga manusia yang melakukan pembicaraan timbal balik sesuai dengan kemampuan si anak.

    http://viozaax.wordpress.com/2006/05/01/mengapa-anak-mengalami-kesulitan-belajar-bicara/

    DISLEKSIA

    Disleksia biasanya ditunjukkan dengan kesulitan seorang anak terutama saat mengenal huruf, mengenal angka, membaca, menulis, mengeja yang disertai keluhan gangguan konsentrasi serta mudah lupa. SAAT anak memasuki jenjang sekolah dasar merupakan salah satu momen istimewa bagi anak itu sendiri juga orang tuanya. Sistem belajar yang sudah mulai "serius" membawa kita pada nuansa berbeda saat anak lepas dari taman kanak-ka- nak dan memasuki dunia barunya di sekolah dasar.

    Seiring dengan itu, sebagian orang tua dan guru mendapatkan beberapa masalah terjadi pada anak muridnya, baik itu masalah interaksi sosial maupun kemandirian. Anak ma- sih mengalami periode transisi dari keadaan di taman kanak-kanak yang banyak didampingi, ke sekolah dasar yang lebih mandiri. Masalah kesulitan belajar pun sering dialami anak-anak. Sejauh mana kesulitan belajar pada anak-anak harus kita cermati dan bagaimana intervensinya agar ndak menimbulkan masalah yang lebih besar kelak? Apakah ini yang disebut sebagai dys-lexia atau kesulitan belajar spesifik? Mari kita simak penjabaran di bawah ini.

    Tak sama Istilah "kesulitan belajar" secara umum diterapkan pada keadaan ketika kesulitan belajar yang ditemui disandang oleh individu yang memang mengalami gangguan neurolo-gis/gangguan perkembangan seperti autis, tunagrahita, down syndrome, gangguan dengan berat, gangguan penglihatan berat, cerebral palsy, dan sindrom-sindrom lainnya.

    Kesulitan belajar terjadi pada individu dengan tingkat intelegensi yang memang di bawah rata-rata sehingga sesungguhnya kesulitan tersebut merupakan hal yang "wajar" dan sudah dapat diprediksikan sebelumnya. Anak-anak yang tergolong mengalami kesulitan belajar sebaiknya dicermati dengan saksama dan dicari gangguan perkembangan yang mendasarinya serta perlu dipastikan tingkat kognisi-nya agar kita dapat menentukan kurikulum pendidikan yang pas untuknya.

    Terminologi lain yang sering tertu-kar pengertiannya dengan "kesulitan belajar" adalah "kesulitan belajar spesifik" atau dikenal sebagai dyslexia. Dyslexia berasal dari bahasa Greek yaitu dys berarti kesulitan dan lexis yang berarti bahasa. Dengan demikian, dyslexia bermakna sebagai kesulitan belajar spesifik berupa kesulitan membaca, mengeja, dan menulis yang tidak sebandingdengan tingkat intelegensi anak. Disleksia justru terjadi pada anak yang mempunyai riwayat perkembangan normal dan tingkat kecerdasan yang normal, bahkan di atas rata-rata.

    Disleksia terjadi karena adanya perbedaan cara pengolahan input baha-sa/simbol pada otak penyandang disleksia dibandingkan dengan otak anak yang bukan penyandang disleksia. Hal ini berakibat individu penyandang disleksia melakukan proses pembelajaran yang berbeda dari individu lainnya yang tidak disleksia.

    Penelitian terkini membuktikan bahwa disleksia merupakan suatu keradaan yang diturunkan (bersifat here-diter) dan terdapat faktor gen tertentu yang bertanggungjawab atas terjadinya keadaan ini. Disleksia biasanya ditunjukkan dengan kesulitan seorang anak terutama saat mengenal huruf, mengenal angka, membaca, menulis, mengeja yang disertai keluhan gangguan konsentrasi serta mudah lupa. Anak juga kerap menunjukkan sikap tidak bisa duduk tenang saat mengikuti pelajaran, duduk selonjoran atau bertumpu pada tangan, grasa-grusu sehingga menjatuhkan pensil atau buku yang ada di mejanya.

    Disleksia tidak diakibatkan karena suatu kebodohan dan tidak disebabkan oleh latar belakang sosial ekonomi keluarga yang buruk atau oleh paparan membaca yang kurang ataupun karena anak kurang motivasi belajar. Penyandang disleksia juga biasanya mempunyai talenta khusus yang istimewa di bidang-bidang tertentu. Individu de-
    wasa penyandang disleksia yang dikenal luas berprestasi gemilang di antaranya adalah Leonardo da Vinci, Albert Einstein, Thomas Alfa Edison, dan mantan PM Singapura Mr. Lee Kwan Yew.

    Remediasi

    Penyandang disleksia membutuhkan remediasi intensif pada aspek baca tulis hitung yang menjadi area "kelemahannya" dengan teknik multisensoris. Artinya, dalam proses belajar dibantu dengan dukungan visual (gambar), au-ditori (suara, lagu), dan kinestetik (gerakan, tekstur). Selain itu, sekolah dapat melakukan berbagai akomodasi seperti memberikan kertas kerja yang ukuran hurufhya lebih.besar dan jarak antarbarisnya lebih jarang. Anak-anak ini juga mungkin perlu didampingi saat menerima instruksi verbal karena sering salah menyimak sehingga salah mengerjakan instruksi. Pada beberapa keadaan, guru dapat mengubah tes tulis menjadi tes lisan atau menambah waktu yang dibutuhkan pada ujian tulis yang diberikan.

    Penelitian terkini membuktikan, penyandang disleksia dapat "mengatasi" kesulitan belajarnya dengan lebih baik jika kesulitan belajar ini dikenali dan diintervensi lebih dini. Artinya, para guru dan orang tua serta profesional terkait (dokter anak, psikolog, ortho-pedagog, dll.) membutuhkan keterampilan tambahan untuk dapat mengenali disleksia secara dini dan melakukan intervensi yang komprehensif bagi mereka, bahkan di usia sebelum memasuki sekolah dasar. (Dr. Kristiantini Dewi, SpA., Indigrow, Asosiasi Disleksia Indonesia)
    http://bataviase.co.id/node/155495

    terapi musik untuk kesulitan belajar

    Terapi musik adalah salah satu dari program rehabilitasi untuk pengembangan keterampilan yang dilaksanakan terhadap seseorang (anak). Bisa saja si anak sudah menguasai atau belum sama sekali. Program-program yang dimaksud adalah snoezellen. Dalam prosesnya, seorang anak akan dibantu oleh seorang (atau lebih) profesional agar mencapai hasil seperti yang diharapkan.


    Snoezellen berasal dari kata snuffelen (to sniff/aktif/eksplorasi). Karena itu, bisa diartikan sebagai suatu aktivitas yang mempengaruhi CNS, central nervous system, melalui media stimulasi pada area visual, auditori, tacticle (sentuhan), taste (rasa/pengecapan), dan pemahaman sikap tubuh pada sistem vestibular (keseimbangan) dan proprioception (gerakan persendian) untuk relaksasi atau aktivitas untuk meningkatkan kualitas hidup.

    Anak saya sulit berkonsentrasi!, kata seorang ibu di ruang tunggu sebuah treatment centre di bilangan Kebayoran Baru.

    Setelah dilakukan observasi dan assesment secara terpadu oleh sekelompok profesional (dokter anak, psikolog, psikiater anak dan terapis) ternyata, anaknya disarankan melaksanakan beberapa macam terapi. Salah satunya terapi musik!

    Apalagi kalau sedang marah, diganggu kakaknya misalnya, masih cerita ibu tadi, suasana hatinya sepanjang hari akan kacau berkepanjangan, uring-uringan, tak bisa mengontrol emosinya. Bahkan tak jarang menampakkan dampak yang buruk. Ia bisa kencing di celana tanpa sadar. Karena itu, anak semakin rendah diri.

    Sebenarnya, terapi musik khususnya snoezellen tidak hanya sebatas pada stimulasi. Namun juga pada aktivitas ataupun permainan yang mengarah pada kesenangan.
    Manfaat yang bisa diperoleh antara lain adalah:

    • Memberi kesempatan untuk relaksasi, berekspresi dan eksplorasi
    • Memperkenalkan stimulasi dasar pada anak yang mengalami gangguan perkembangan
    • Berlatih dan belajar tentang kewaspadaan/kesadaran pada kenyataan dunia dengan cara melatih perhatiannya.
    • Membangun rasa saling percaya antara anak, guru, terapisnya yang pada gilirannya nanti bisa memperluas dan mampu bersosialisasi dengan baik tanpa harus rendah diri.

    Daya kekuatan musik barangkali lebih dramatis dari apa yang ditunjukkan oleh penelitian Dr. Alfred Tomatis, MD peletak dasar teori terapi musik gebrakan besar dalam daya kreatif dan penyembuhan oleh suara dan musik pada umumnya dan efek Mozart pada khususnya!î

    Sebagai orang pertama yang memahami fisiologi yang membedakan antara ëmendengarkaní (listening) dan ëmendengarkaní (hearing), Alfred Tomatis menciptakan model tentang pertumbuhan telingan dan perkembangannya dengan meninjau cara kerja sistem vestibular atau kemampuan untuk memberikan keseimbangan dan mengatur gerakan otot-otot internal.
    Karena itu, musik diyakini mampu menghibur jiwa, membangkitkan semangat serta menjernihkan pikiran dan mampu mengusir kesedihan.

    Musik Mozart niscaya mempengaruhi yang mendengarkan bahkan sangat mungkin bisa memperbaiki persepsi spasial dan mampu memperjelas bentuk komunikasi yang dikehendaki oleh hati maupun pikiran. Irama, melodi dan frekuensi (tingggi) Mozart mampu merangsang dan menjangkau wilayah-wilayah kreatif dan memotivasi otak. Begitu murni dan sederhana. Transparansi, lekuk-lekuk dan irama di dalam ruangan terbuka dalam mengubah dan menjelajah jiwa (soul). Kekuatan musik Mozart sangat beragam, tergantung gubahannya, pemusiknya, pendengarnya, sikap tubuh saat mendengarkan dan banyak faktor lagi.

    Bisa dimaklumi, konon saat Mozart masih dalam kandungan, setiap hari ia ëwajibí mendengar musik terutama permainan biola ayahnya. Mungkin, tanpa disadari semua itu meningkatkan perkembangan neurologisnya serta membangkitkan irama-irama kosmik dalam rahim ibunya.

    Selain darah musik yang kental di tubuh Mozart ñ ayahnya seorang pemimpin orkes, ibunya anak seorang musisi - adalah suasana musikal semenjak kecil di lingkungannya membuat Mozart ëmatangí di dunia musik.

    Usia 12, tanpa kenal lelah Mozart bekerja dalam dunianya, dunia musik. Tak kurang 17 opera, 41 simfoni, 27 konserto untuk piano dan musik-musik untuk organ, klarinet dan alat musik lain diselesaikan dengan sangat bagus. Sampai akhir hayatnya, Mozart telah melahirkan tak kuran 626 gubahan besar. Karya-karyanya selalu diwarnai nuansa damai, tak pernah ada gejolak.

    Orang seringkali mendengarkan musik hanya sambil lalu, tanpa menyadari pengaruhnya. Padahal musik sangat (bisa) merangsang dan menghanyutkan jiwa atau biasa-biasa saja atau bahkan terlalu invasive. Yang jelas, musik sangat bisa mempengaruhi fisik maupun mental. Untuk bisa mengatakan bahwa musik mampu ëberperaní bagi kehidupan manusia kita harus meninjau lebih dalam apa sesungguhnya yang bisa kita peroleh dari musik.

    Sungguh terapi musik bisa diandalkan demi tujuan-tujuan tersebut di atas.
    Berikut manfaat dari program terapi musik:

    • Mampu menutupi bunyi dan perasaan yang tidak menyenangkan
    • Mampu memperlambat dan menyeimbangkan gelombang dalam otak
    • Mempengaruhi pernafasan
    • Mempengaruhi denyut jantung, nadi dan tekanan darah manusia
    • Bisa mengurangi ketegangan otot dan pemperbaiki gerak dan koordinasi tubuh
    • Bisa mempengaruhi suhu tubuh manusia
    • Bisa meningkatkan endorfin
    • Bisa mengatur hormon (hubungannya dengan stress)
    • Mengubah persepsi tentang ruang dan waktu
    • Bisa memperkuat memori dan kemampuan akademik
    • Bisa merangsang pencernaan
    • Bisa meningkatkan daya tahan tubuh manusia
    • Bisa meningkatkan penerimaan secara tak sadar terhadap simbolisme
    • Bisa menimbulkan rasa aman dan sejahtera
    • Bisa mengurangi rasa sakit
    • Barangkali masih banyak yang bisa dilakukan oleh musik sebagai terapi
    http://www.kesulitanbelajar.org/index.php?option=com_content&task=view&id=23&Itemid=2