Jumat, 16 April 2010
PENINGKATAN KEMAMPUAN BERHITUNG PADA ANAK RETARDASI MENTAL RINGAN MELALUI PEMBELAJARAN MEDIA GRAFIS
Informasi ini digali lebih mendalam melalui berbagai metode assesmen yaitu observasi, wawancara, tes formal, dan tes informal. Dari hasil assesmen ada beberapa faktor yang mempengaruhi bahwa D tergolong anak retardasi mental ringan yang mempunyai permasalahan dalam kemampuan berhitung adalah factor dari masalah pada kelahiran (perinatal) yaitu bayi yang susah keluar dari rahim ibu sehingga sempat dilakukan vacuum supaya bayi mau keluar. Pada saat ibu mengandung D, ibu juga rempunyai kebiasaan dalam merokok. Pada masa perkembangan, pada usia 1 tahun 1 bulan D sudah bisa berjalan namun pada saat belajar berjalan sering jatuh dan membentur kepala bagian belakang dan pada usia 3 tahun D juga pernah menderita panas tinggi (step) sehingga diopname selama 1 bulan. Faktor social yang turut mempengaruhi adalah kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orang tua terutama ibu sehingga D kurang bersemangat dalam belajar dan kurang percaya diri dalam melakukan sesuatu.
Berdasarkan hasil assesmen, maka dicari alternatif intervensi yang bisa digunakan, salah satunya adalah menggunakan media pembelajaran yaitu media grafis. Media grafis yang dipakai adalah menggunakan garis bilangan dan dengan cara sekatan. Rancangan intervensi ini bertujuan untuk meningkatakan kemampuan berhitung dasar yaitu penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, melatih konsentrasi, dan juga meningkatkan ingatan jangka pendek.
Hasil dari intervensi menunjukkan ada peningkatan kemampuan berhitung D yaitu pada penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, meskipun peningkatan tersebut belum mencapai seluruh tujuan yang ditetapkan dalam pembuatan rancangan intervensi. Namun penulis optimis bahwa masalah D dapat teratasi, karena ia menunjukkan motivasi yang besar dan sikap yang kooperatif selama mengikuti latihan.
http://www.adln.lib.unair.ac.id/go.php?id=gdlhub-gdl-s2-2010-brinnaokta-11380&PHPSESSID=c4ebe867390991278f3a1709fd53644e
disgrafia pada anak
KabarIndonesia -- Kesulitan belajar pada anak, bila tidak dideteksi secara dini dan tidak dilakukan terapi yang benar, bisa menyebabkan kegagalan dalam proses pendidikan anak. Kepedulian orang tua yang tinggi dapat membantu dalam deteksi dini kesulitan belajar anak.
Riwayat penyakit terdahulu, seperti anak pernah mengalami sakit keras hingga demam tinggi, atau anak terlahir prematur, merupakan faktor risiko terjadinya kesulitan belajar. Gangguan berat akan mudah teridentifikasi, sehingga dapat terdeteksi pada usia dini. Sedangkan pada anak dengan gangguan ringan, mungkin baru teridentifikasi saat usia sekolah.
Peran dokter anak pada gangguan kesulitan belajar, terutama ditujukan untuk mendeteksi tumbuh kembang anak sesuai dengan tahapan usianya. Umumnya, anak yang berusia 2 atau 3 tahun belum belajar menulis, namun telah menyukai kegiatan menulis walaupun hanya sekadar coretan yang belum bermakna. Ketika memasuki usia sekolah, kegiatan menulis merupakan hal yang menyenangkan karena mereka menyadari bahwa anak yang bisa menulis akan mendapatkan nilai baik dari gurunya.
Menulis membutuhkan perkembangan kemampuan lebih lanjut dari membaca. Perkembangan yang dikemukakan oleh Temple, Nathan, Burns; Cly: Ferreiro dan Teberosky dalam Brewer (1992) oleh Rini Hapsari:
Scribble stage. Tahap ini ditandai dengan mulainya anak menggunakan alat tulis untuk membuat coretan. Sebelum ia belajar untuk membuat bentuk, huruf yang dapat dikenali.
Linear repetitive stage. Pada tahap ini, anak menemukan bahwa tulisan biasanya berarah horisontal, dan huruf-huruf tersusun berupa barisan pada halaman kertas. Anak juga telah mengetahui bahwa kata yang panjang akan ditulis dalam barisan huruf yang lebih panjang dibandingkan dengan kata yang pendek.
Random letter stage. Pada tahap ini, anak belajar mengenai bentuk coretan yang dapat diterima sebagai huruf dan dapat menuliskan huruf-huruf tersebut dalam urutan acak dengan maksud menulis kata tertentu.
Letter name writing, phonetic writing. Pada tahap ini, anak mulai memahami hubungan antara huruf dengan bunyi tertentu. Anak dapat menuliskan satu atau beberapa huruf untuk melambangkan suatu kata, seperti menuliskan huruf depan namanya saja, atau menulis "bu" dengan sebagai lambang dari "buku".
Transitional spelling. Pada tahap ini, anak mulai memahami cara menulis secara konvensional, yaitu menggunakan ejaan yang berlaku umum. Anak dapat menuliskan kata yang memiliki ejaan dan bunyi sama dengan benar, seperti kata "buku", namun masih sering salah menuliskan kata yang ejaannya mengikuti cara konvensional dan tidak hanya ditentukan oleh bunyi yang terdengar, seperti hari "sabtu" tidak ditulis "saptu", padahal kedua tulisan tersebut berbunyi sama jika dibaca.
Conventional spelling.
Pada tahap ini, anak telah menguasai cara menulis secara konvensional, yaitu menggunakan bentuk huruf dan ejaan yang berlaku umum untuk mengekspresikan berbagai ide abstrak.
Pada anak usia sekolah, perkembangan menulis telah berada pada tahap terakhir, yaitu "conventional spelling". Selain telah dapat menulis dengan huruf dan ejaan yang benar, anak pada usia kelas dua SD telah memerhatikan aspek penampilan visual mereka.
Beberapa anak mengalami gangguan dalam menulis. Kesulitan menulis ini disebut "disgrafia". Ada beberapa ciri khusus anak dengan gangguan disgrafia, di antaranya adalah:
- Terdapat ketidakkonsistenan bentuk huruf dalam tulisannya;
- Saat menulis, penggunaan huruf besar dan huruf kecil masih tercampur;
- Ukuran dan bentuk huruf dalam tulisannya tidak proporsional;
- Anak tampak harus berusaha keras saat mengomunikasikan suatu ide, pengetahuan, atau pemahamannya lewat tulisan;
- Sulit memegang bolpoin maupun pensil dengan mantap -- caranya memegang alat tulis sering kali terlalu dekat, bahkan hampir menempel dengan kertas;
- Berbicara pada diri sendiri ketika sedang menulis, atau malah terlalu memerhatikan tangan yang dipakai untuk menulis;
- Cara menulis tidak konsisten, tidak mengikuti alur garis yang tepat dan proporsional; dan
- Tetap mengalami kesulitan meskipun hanya diminta menyalin contoh tulisan yang sudah ada.
Teori konstruksi sosial Vygotsky (Santroks:2004) memiliki tiga asumsi, yaitu:
- kemampuan kognitif anak dapat dipahami hanya ketika mereka mampu menganalisa dan menginterpretasikan sesuatu;
- kemampuan kognitif anak dimediasi oleh penggunaan bahasa atau kata-kata sebagai alat untuk mentransformasi dan memfasilitasi aktivitas mental; dan
- kemampuan kognitif berkaitan dengan hubungan sosial dan latar belakang sosial budaya.
Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut, Vygotsky mengemukakan tiga konsep belajar sebagai berikut.
- Zone of Proximal Development (ZPD), yaitu suatu wilayah (range) antara level terendah, yaitu kemampuan yang dapat diraih anak jika tanpa bimbingan, hingga level tertinggi, yaitu kemampuan yang dapat diraih anak jika dengan bimbingan.
- Scaffolding, yaitu teknik untuk mengubah tingkat dukungan.
- Language and thought.
Aplikasi teori Vygotsky dapat digunakan guru dan orang tua untuk membantu anak yang mengalami disgrafia.
Langkah-langkah yang dapat dilakukan meliputi:
- Mengidentifikasi masalah disgrafia, terdiri dari:
- masalah penggunaan huruf kapital,
- ketidakkonsistenan bentuk huruf,
- alur yang tidak stabil (tulisan naik turun), dan
- ukuran dan bentuk huruf tidak konsisten.
- Menentukan ZPD pada masing-masing masalah tersebut.
- ZPD untuk kesalahan penggunaan huruf kapital.
- ZPD untuk ketidakkonsistenan bentuk huruf.
- ZPD untuk ketidakkonsistenan ukuran huruf.
- ZPD untuk ketidakstabilan alur tulisan.
- Merancang program pelatihan dengan teknik scaffolding. Teknik scaffolding dalam pelatihan ini meliputi tahapan sebagai berikut.
- Memberikan tugas menulis kalimat yang didiktekan orang tua/guru.
- Bersama-sama dengan siswa mengidentifikasi kesalahan tulisan mereka.
- Menjelaskan mengenai pelatihan dan ZPD masing-masing permasalahan.
- Menjelaskan kriteria penulisan yang benar dan meminta anak menyatakan kembali kriteria tersebut.
- Memberikan latihan menulis dengan orang tua/guru memberikan bantuan.
- Mengevaluasi hasil pekerjaan siswa bersama-sama dengan anak.
- Memberikan latihan menulis dengan mengurangi bantuan terbatas pada kesalahan yang banyak dilakukan anak.
- Mengevaluasi hasil pekerjaan bersama-sama dengan anak.
- Memberikan latihan menulis tanpa bantuan orang tua/guru.
- Mengevaluasi pekerjaan anak.
disleksia pad anak
Disleksia ditandai dengan adanya kesulitan membaca pada anak maupun dewasa yang seharusnya menunjukkan kemampuan dan motivasi untuk membaca secara fasih dan akurat. Disleksia merupakan salah satu masalah tersering yang terjadi pada anak dan dewasa. angka kejadian di dunia berkisar 5-17% pada anak usia sekolah. Disleksia adalah gangguan yang paling sering terjadi pada masalah belajar. Kurang lebih 80% penderita gangguan belajar mengalami disleksia.
Angka kejadian disleksia lebih tinggi pada anak laki-laki dibandingkan dengan perempuan yaitu berkisar 2:1 sampai 5:1. Ada juga yang mengatakan bahwa ternyata tidak terdapat perbedaan angka kejadian antara laki-laki dan perempuan.
Deteksi dini disleksia pada anak
Kesulitan membaca yang tidak diharapkan (kesulitan membaca pada seseorang yang tidak sesuai dengan kemampuan kognitif orang tersebut atau tidak sesuai dengan usia, tingkat kepandaian dan tingkat pendidikan), selain itu terdapat masalah yang berhubungan dengan proses fonologik.
Pada anak usia prasekolah, adanya riwayat keterlambatan berbahasa atau tidak tampaknya bunyi dari suatu kata (kesulitan bermain kata-kata yang berirama, kebingungan dalam menghadapi kata-kata yang mirip, kesulitan belajar mengenal huruf) disertai dengan adanya riwayat keluarga yang menderita disleksia, menunjukkan faktor risiko yang bermakna untuk menderita disleksia.
Pada anak usia sekolah biasanya keluhan berupa kurangnya tampilan di sekolah tetapi sering orangtua dan guru tidak menyadari bahwa anak tersebut mengalami kesulitan membaca. Biasanya anak akan terlihat terlambat berbicara, tidak belajar huruf di taman kanak-kanak dan tidak belajar membaca pada sekolah dasar. Anak tersebut akan makin tertinggal dalam hal pelajaran sedangkan guru dan orangtua biasanya makin heran mengapa anak dengan tingkat kepandaian yang baik mengalami kesulitan membaca.
Walaupun anak telah diajarkan secara khusus, biasanya anak tersebut akan dapat membaca tetapi lebih lambat. Anak tidak akan fasih membaca dan tidak dapat mengenali huruf secara tepat. Disgrafia biasanya menyertai disleksia. Selain itu penderita disleksia akan mengalami gangguan kepercayaan diri.
Penilaian membaca
Membaca dinilai berdasarkan analisis, kefasihan dan pemahaman. Tes yang dapat digunakan untuk menilai fonologi anak adalah Comprehensive Test of Phonological (CTOPP). Tes ini mencakup kepekaan fonologik, analisa fonologik dan menghapal. Tes ini telah distandarisasi di Amerika Serikat untuk anak usia 5 tahun sampai dewasa.
Pada anak usia sekolah salah satu tes yang penting adalah menilai apakah anak tersebut dapat menganalisis kata. Tes yang digunakan adalah Woodcock-Johnson III dan Woodcock Reading Mastery Test. Kefasihan berbicara dinilai dengan Gary Oral Reading Test. Untuk menilai kecepatan membaca suatu kata digunakan Test of World Reading Efficiency (TOWRE).
Sebagai uji tapis bagi para dokter, disarankan untuk mendengarkan dengan seksama saat anak membaca yang sesuai dengan usianya.
Pemeriksaan fisis dan pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan fisis memiliki peran yang sangat terbatas dalam mendiagnosis disleksia. Gangguan sensori primer harus disingkirkan. Pemeriksaan neurologik pada penderita disleksia biasanya normal.
Pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan radiologis, elektroensefalografi dan analisis kromosom hanya dilakukan jika terdapat indikasi klinis. Pada kasus tertentu, pemeriksaan genetik harus dilakukan jika terdapat indikasi klinis. Pada kasus tertentu, pemeriksaan genetik harus dilakukan mengingat terdapat kelainan genetik seperti sindrom Klinefelter yang berhubungan dengan kesulitan bahasa dan mambaca.
gangguan konsentrasi belajar
Mereka mungkin melamun di kelas dan kelihatan gelisah.Perilaku seperti ini tentunya menyulitkan orang tua dan guru.Tapi ingatlah bahwa bisa saja itu adalah karakter bawaannya. Dalam hal ini, adakan kontak mata dan berikan perintah atau instruksi dalam bahasa yang sederhana dan ringkas. Beri waktu jeda dalam mengerjakan PR,tugas rumah atau permainan untuk membantu anak memperoleh energi berkonsentrasi.
Sikap anak yang tidak memperhatikan bisa jadi disebabkan oleh situasi atau kekhawatiran tertentu.Semua anak bisa terlihat terganggu untuk alasan sekecil apapun. Misalnya; Orang Tuanya baru saja bertengkar, Orang tua kabur, suasana kelas/belajar gaduh, anak duduk dengan teman yang suka mengganggu, dsb.
Apabila anak atau siswa mengalami tanda-tanda seperti diatas dapat dicoba beberapa cara antara lain sebagai berikut :
1. Jika seorang anak dulunya tidak mempunyai masalah konsentrasi sekarang terlihat gelisah, sangat mungkin ada penyebab khusus dari ketergangguannya. Bicaralah padanya dengan cara yang simpatik dan tidak menuduh untuk mengetahui apa yang mengganggunya.
2. Jika Ia bersikeras tidak ada yang masalah, tanyalah dokter anak. Mungkin ada kegelisahan psikologis. Sesuatu seperti virus biasa, bisa menjadikan anak kaku dan mengganggu daya konsentrasinya. Atau bisa jadi anak mengalami masalah pendengaran yang tidak terdeteksi, sehingga kegiatan mendengar membuatnya putus asa.
3. Kemungkinan lain bagi anak yang sangat mudah terganggu adalah menderita kekurangan daya konsentrasi. Bantulah kekurangannya ini dengan memberikan aktivitas dan memperhatikan/mengontrol lebih khusus. Misal;memanggil namanya apabila dia diam atau asyik sendiri.
http://primagamameruya.wordpress.com/2008/11/20/gangguan-konsentrasi-belajar-pada-anak/Selasa, 06 April 2010
Dampak Virtual Worlds bagi Pertumbuhan Anak
Maraknya pertumbuhan teknologi di virtual worlds kini bukan hanya konsumsi orang dewasa saja. Tidak dapat dipungkiri bahwa kini anak-anak kecil pun mulai dapat mengikuti perkembangan dunia maya ini melalui berbagai macam game yang terus saja berkembang dan semakin memikat mereka untuk terus memainkannya. Namun dampak dari permainan yang mereka geluti di dunia maya ini mungkin selama ini belum banyak menjadi pemikiran masyarakat luas.
Menurut sebuah diskusi grup dan penelitian pada hari Rabu (14/11) di University of Southern California yang membicarakan mengenai dampak virtual worlds pada anak-anak akhir-akhir ini, para peneliti mengakui telah lalai dengan mengabaikan dampak berbagai macam permainan ini bagi anak-anak. Namun MacArthur Foundation, sponsor dari diskusi panel ini, telah menghabiskan biaya jutaan dollar untuk melakukan penelitian untuk beberapa tahun yang akan datang guna meneliti dampak virtual worlds ini bagi anak-anak.
Dough Thomas, seorang professor dari USC's Annenberg School of Communication, mengatakan bahwa dalam banyak kasus, anak-anak telah diperkenalkan sejak dini pada teknologi yang mengajarkan kepada mereka bagaimana menjadi warga negara yang baik serta bagaimana memilih keahlian yang mereka butuhkan untuk hidup di masa mendatang. Lebih lanjut Thomas mengatakan, “Sebagai orang tua, saya tidak akan mengkhawatirkan tentang hal-hal kecil dalam permainan seperti online predator atau kekerasan didalamnya. Tetapi saya akan lebih mengkhawatirkan tentang bagaimana cara konsumsi dan gaya konsumsi diterapkan dalam sebuah permainan. Karena dalam virtual world ini, anak-anak diajarkan bahwa untuk menjadi warga negara yang baik haruslah memiliki barang-barang dan asesoris yang tepat, yang kesemuanya itu tentunya juga harus dibeli secara online”.
Namun di tengah berkembangnya game yang menciptakan virtual worlds bagi anak-anak ini, ternyata masih ada sedikit kepedulian yang ditunjukkan oleh beberapa vendor pembuat game dengan adanya education virtual worlds. Lebih lanjut jenis virtual worlds ini memang ditujukan untuk tujuan edukasi, dimana Modern Prometheus ini mengajarkan pada anak untuk belajar etika dan mengambil keputusan. Dalam game ini anak-anak dilibatkan dalam sebuah skenario di mana mereka harus membuat keputusan-keputusan strategis yang menyangkut etis dari berbagai sudut pandang yang berbeda.
Lebih lanjut Thomas menambahkan, “Pengetahuan memang berubah, dan pengetahuan merupakan serangkaian fakta yang terjadi. Sekarang sudah bukan lagi masalah ‘apa’ atau ‘dimana’, bagi anak-anak untuk belajar informasi. Namun kini yang lebih penting adalah bagaimana anak-anak ini mampu beradaptasi dengan perubahan.” Sebagai orang tua kini sudah bukan waktunya lagi untuk mengkhawatirkan game apa yang dimainkan oleh anak kita, namun kita perlu khawatir jika anak kita tidak dapat bermain game, karena hal tersebut merupakan pertanda mereka tidak mampu beradaptasi mengikuti perkembangan yang ada.http://www.beritanet.com/Education/dampak-virtual-worlds-1.html
